Rigid Pavement: Pengertian, Komponen, dan Struktur Perkerasan Kaku
II. Komponen dan Struktur Rigid Pavement
Dalam pekerjaan Rigid Pavement terdapat bagian-bagian rigid yang memiliki fungsi dan penggunaan material yang berbeda. Berikut adalah bagian-bagian Rigid yang umum dilaksanakan dalam pekerjaan perkerasan kaku.

Bagian-bagian Rigid Pavement
1. Subgrade (Tanah Dasar)
Subgrade ialah lapisan tanah dasar (bagian paling bawah dalam konstruksi rigid) yang berfungsi sebagai area perletakan lapis perkerasan yang mendukung konstruksi lapisan perkerasan kaku di atasnya. Tanah dasar (subgrade) dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi (dengan tambahan semen, kapur dan lain lain). Terdiri dari beberapa layer (tergantung kebutuhan desain). Ketebalan pemadatan per layer adalah sebesar 30-40 cm.
2. Aggregate Base / Subbase (Lapis pondasi bawah)
Lapis pondasi bawah adalah layer atau lapisan yang berada di atas tanah timbunan, yang digunakan sebagai structural layer dengan pengalir aliran air secara horizontal agar tidak merusak badan jalan. Pada pekerjaan proyek JTTS, Subbase menggunakan material Agregat kelas A / Base A. Ketentuan agregat mempunyai spesifikasi tingkat kepadatan sandcone test 100%. Memiliki kemiripan fungsi yang hampir sama seperti standar pada lapis pondasi perkerasan aspal. Jika digunakan lebih dominan sebagai layer drainase, maka spesifikasi tingkat kepadatannya berada di angka 95% – 97% agar terdapat celah untuk air dapat mengalir.
Standar desain proyek JTTS memiliki tebal Subbase 15 cm padat. Oleh karena itu, ketebalan material yang saat penghamparan biasanya sekitar 17 cm, dan setelah proses pemadatan dengan menggunakan alat berat vibro roller ketebalannya menjadi 15 cm. Apabila proses pemadatan telah selesai, maka dianjurkan untuk melakukan proses uji kepadatan tanah yang dinamakan sandcone.
3. Lean Concrete (Lantai Kerja)
Lean concrete (biasa disingkat LC) merupakan lantai kerja untuk alas berpijaknya lapisan rigid pavement. Memang bisa dibilang bahwa lapisan ini bukan termasuk lapisan struktur utama. Namun wajib ada sebelum pekerjaan beton (rigid). Berfungsi hanya sebagai alas atau lantai kerja agar air semen dari proses pengecoran rigid tidak meresap ke dalam lapisan dibawahnya. Ketebalan LC ini berada di angka 10 cm. Proses pelaksanaannya cukup mudah, beton segar yang diangkut oleh truck mixer kemudian dituang dan diratakan menggunakan jidar oleh para pekerja.
4. Rigid Pavement (Lapis Perkerasan Kaku)
Pekerjaan rigid pavement merupakan pekerjaan berbobot terbesar dan termasuk pekerjaan paling utama pada highway atau main road. Spesifikasi beton yang digunakan dalam desain ialah mutu kelas P dengan ketebalan 30 cm. Proses pengecoran rigid berskala besar biasanya menggunakan bantuan alat kerja yang dinamakan concrete paver, sedangkan untuk metode cor konvensional (lebih sering disebut proses pekerjaan rigid manual).
Beberapa elemen yang berpengaruh terhadap mutu perkerasan jalan beton ini meliputi kualitas beton yang digunakan serta metode pelaksanaannya. Beton yang akan digunakan harus benar-benar terjaga mutunya dan masih segar saat sampai di lokasi pengecoran. Syarat slump yang digunakan adalah 3-5 cm (untuk metode memakai alat Paver), dan slump 5-7,5 cm (untuk metode konvensional/manual). Apabila terlalu encer, concrete paver tidak bisa menggelar dan memadatkan beton dengan baik sehingga kualitasnya pun berpengaruh. Metode pelaksanaan yang baik akan amat berpengaruh terhadap hasil rigid pavement di lapangan. Diperlukan tenaga kerja yang berpengalaman dan mengerti teknis penggunaan alat wirtgen dan GNZ.
5. Dowel Bar

Dowel dan Chair Bar
Dowel Bar adalah batang baja polos (tidak berulir) yang digunakan sebagai penyambung/pengikat pada beberapa jenis sambungan pelat beton perkerasan jalan (rigid pavement), yang berfungsi untuk menyalurkan beban pada sambungan. Pada pemasangannya pada proyek JTTS, dilakukan dengan separuh dari bagian dowel terikat (fix), sementara separuh sisi Dowel lainnya dilumasi, diberi plastik serta dicat pelumas Grease untuk memberikan kefleksibelan (move) di tiap sambungan antar segmen rigid (alternatif selain pelumas grease, juga bisa menggunakan kondom berbahan PVC).
Dimensi yang digunakan pada desain proyek JTTS ialah untuk dowel yaitu diameter 32 mm dan panjang 59 cm per jarak 30 cm untuk pembagiannya. Sedangkan Chair Bar adalah hasil pembesian fabrikasi sebagai tempat dudukan batang Dowel.
6. Tie Bar

Tie Bar dari tampak samping Rigid yang telah dicor
Tie bar adalah potongan besi profil yang diaplikasikan pada lidah alur (pertemuan samping antar rigid), yang dimaksudkan untuk mengikat pelat beton agar tidak bergerak secara horizontal. Batang pengikat dipasang pada sambungan secara alur memanjang. Bahan yang dipakai pada proyek JTTS adalah tie bar berbahan besi ulir dengan ukuran 13 mm dan panjang 80 cm, yang dipasang dengan jarak 60 cm untuk pembagiannya.
Berikut adalah gambar/shop drawing terkait detail dan potongan Rigid Pavement yang disajikan oleh Proyek JTTS:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3
– – –
Oke Builder! mungkin cukup segitu saja informasi mengenai “Rigid Pavement: Pengertian, Komponen, dan Struktur Perkerasan Kaku”, selanjutnya Gue pasti akan membahas kelanjutan tentang metode pelaksanaannya. Sekian mengenai informasi konstruksi mengenai Rigid Pavement pada kesempatan kali ini. Kritik dan saran Author terima dengan senang hati, kurang lebihnya mohon maaf. See yaa guys!
