Soil Nailing: Teknik Modern Stabilisasi Tanah
Definisi Shotcrete
Proses dimana beton diproyeksikan atau disemprotkan di bawah tekanan dengan menggunakan suatu alat bantu atau alat semprot ke suatu permukaan untuk memberi bentuk struktural seperti dinding, lantai dan atap. Permukaan yang dapat disemprotkan harus bermaterial kayu, baja, polystyrene atau permukaan lainnya dimana beton memungkinkan untuk diproyeksikan pada permukaannya.
Metode shotcrete ini pertama kali ditemukan oleh seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat bernama Carl Ethan Akeley pada tahun 1907. Sistem penyemprotan shotcrete terdapat 2 cara, yaitu wet mix dan dry mix. Pada awalnya alat shotcrete hanya bersistem dry mix saja, namun seiring perkembangannya zaman muncullah sistem wet mix.
Sistem ini timbul sebagai jawaban dari persoalan debu. Perbedaan sistem antara wet mix dan dry mix terletak pada penginputan mortarnya. Dimana pada sistem dry mix air dicampur pada ujung nozzle, sedangkan pada sistem wet mix pencampuran air dilakukan sebelum dimasukkan ke dalam alat penyemprot.
Material Shotcrete
Material untuk pekerjaan antara lainnya, ialah:
- Portland cement
- Pasir bersih dan kering
- Aggregate/batu pecah 5 – 10mm, yang tidak pipih padat dan bersih dari lumpur
- Air bersih
- Bahan kimia (accelerator) untuk mempercepat pengerasan/pengeringan
- Wiremesh M6
- Besi beton D13 untuk waller
- Geotextil untuk strip drain
- Pvc 2” untuk whephole
- Besi angkur Diameter 10mm
- Solar
Daftar Peralatan dan Pekerja
Peralatan yg dibutuhkan untuk pekerjaan antara lain:
- Mesin Shotcrete dry mix
- Mesin Compresor dengan working pressure 7 bar dan kapasitas min 375 cfm
- Sumber listrik PLN atau generator +/- 10kVa 3 x 380 V/50 Hz.
- Mesin mixer molen
- Pompa air dengan working pressure 2 – 5 bar dan kapasitas 50 l/menit
- Mobil pick up
- Water torn kap min.1000 ltr
- Sekop, pacul dan terpal
Man power dalam pekerjaan yang diperlukan antara lain ialah:
- Supervisor
- Mandor pekerjaan
- Nozleman
- Asisten nozleman
- Tenaga pekerja bangunan
- Operator alat
Analisis Prosedur Metode Kerja Shotcrete
Persiapan Lahan
Sebelum shotcrete dilaksanakan terlebih dulu dilakukan pengecekan lahan apakah sudah sesuai atau belum dengan rencana, setelah itu dilakukan pengukuran utk menentukan luasan yang akan dishotcrete. Selain itu harus dilakukan pengecekan kondisi tanah apabila ada batuan lepas maupun tanah lepas harus dibersihkan dulu.
Pemasangan Stripdrain dan Whephole
- Pembuatan stripdran diameter 20 cm dari geotex di jahit
- Pembuatan jalur strip drain arah vertikal jarak 2 m, galian tanah kedalaman 20 cm
- Pemasangan strip drain sesuai jalur dan setelah terpasang kemudian di isi gravel
- Setiap jarak 2 m di pasang whephole pvc 2” L: 20 cm, pada ujung dalam di bungkus geotekstil
Pemasangan Wiremesh dan Besi Waller
- Pengupasan dan perataan permukaan tanah/lereng sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
- Pemasangan wire–mesh M6.
- Pemasangan angkur yang berjarak 1 – 2 meter antara angkur
- Pemasangan besi waller 2D13 arah horisontal dan vertikal untuk menghubungkan antar titik soil nailing
Mixing Material
Untuk metode dry shotcrete, mixing material dilakukan dengan mengaduk material tanpa air dengan mixer mollen dan ditampung di dekat mesin. Untuk job mix beton shotcrete mutu 26 Mpa adalah:
- PCC estimasi sebanyak 400 kg
- Pasir estimasi sebanyak 700 kg
- Screening estimasi sebanyak 900 kg
- Air bersih estimasi sebanyak 140 liter
- Expanding agent estimasi sebanyak 1,8 kg
- Hyperplsticiser estimasi sebanyak 4 liter
Aplikasi Shotcrete
Dengan memanfaatkan tekanan angin dari kompressor yang melalui mesin shotcrete dan ujung nozzle, permukaan bidang kerja dibersihkan dari partikel lepas yang masih melekat dibidang kerja dan bila perlu ditambahkan air dari pompa yang berhubungan langsung dengan nozzle. Setelah bidang kerja bersih material dimasukan/dituang kedalam hopper mesin.
Pada saat mesin shotcrete dihidupkan rotor akan berputar perlahan dan material di hopper akan turun dan mengisi tabung pada rotor bergantian dengan tekanan angin dari kompressor, material akan mengalir ke ujung nozzle dan pencampuran material kering dengan air terjadi dinozzle dimana saluran air dari pompa air terhubung dan pengaturan suplai airnya diatur manual melalui gate–valve pada nozzle.
Dengan demikian material yang terlontar dari nozzle sudah lecak (basah. Penembakan dilakukan dengan jarak tembak (antara ujung nozzle dengan bidang kerja) +/- 1m dan posisi tegak lurus (90◦) dan diputar perlahan melingkar +/- Ø 30 cm sampai terpenuhi ketebalan yg diinginkan.
– – –
Sampai disini dulu ya Builder sekalian.. demikian informasi mengenai soil nailing dan shotcrete yang dapat Author sampaikan. Terima kasih all!
